Showing posts with label Humor. Show all posts
Showing posts with label Humor. Show all posts

Monday, 29 January 2018

Nikah Lewat Internet, Jimaknya Gimana?


Diamlah. com Satu waktu di forum Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur saat Kiai Hasyim Muzadi menjabat sebagai Ketua PWNU, ada bahasan soal hukum nikah via internet. Saat itu awal ramai-ramainya orang membincangkan dan menggunakan internet.

Dari hasil Bahtsul Masail, PWNU Jawa Timur memutuskan bahwa pernikahan lewat internet hukumnya haram dengan merujuk pada kitab-kitab yang telah ada, di bab apa, dan di halaman berapa.

Gus Dur, selaku Ketua Umum PBNU hadir pada kesempatan itu. Dalam forum, Gus Dur justru menyangkal keputusan Bahtsul Masail terkait haramnya menikah lewat internet tersebut.

"Para ulama di sini ini ndak canggih. Masa nikah lewat internet haram," tutur Gus Dur.

Saat itu juga para kiai, semua peserta dalam forum terdiam.

"Nikah lewat internet itu boleh," jelas Gus Dur.

Sebagian kiai bingung, sebagian menolak dalam diam, sebagian lagi berpikir menangkap maksud Gus Dur.

"Asal jimak-nya juga lewat internet," seloroh Gus Dur disusul derai tawa para peserta bahtsul masail.

Tuesday, 19 December 2017

Menangkal Hoaxs Ala Gus Dur


Diamlah. Com Tokoh Gusdurian Solo, Hussein Syifa berkisah tentang sebuah kebiasaan Gus Dur, yakni jika beliau datang ke Solo, Gus Dur seringkali ngersaake dahar (makan) di rumah makan gudeg langganannya.

Suatu ketika setelah makan di rumah makan tersebut Gus Dur diberitahu salah satu kiai bahwa kata orang-orang, rumah makan tersebut menjual saren (darah ayam yang dibekukan). 

"Matur nuwun (terima kasih) kiai atas informasinya," jawab Gus Dur singkat, tanpa nada menyela maupun mendukung informasi tersebut.

Esok harinya sebelum kembali ke Jakarta, Gus Dur meminta untuk sarapan di rumah makan gudeg yang konon menjual saren tersebut. Sesampainya di sana, Gus Dur pun bertemu pemiliknya dan menanyakan perihal info yang masih simpang siur itu.

“Nyuwun pangapunten, punapa warung niki nyade saren (mohon maaf, apakah warung ini menjual saren)?" tanya Gus Dur.

"Mboten Gus, lah wonten nopo tho Gus (tidak Gus, memang ada apa ya Gus)?" jawab sang penjual sembari bertanya balik. 

"Mboten wonten punopo (tidak apa-apa). Matur nuwun, " kata Gus Dur.

Setelah sang pemilik rumah makan gudeg tersebut masuk kembali ke dalam, Gus Dur pun berkata kepada Hussein Syifa yang ikut menemani di rumah makan tersebut.

"Mas, ini saya sudah tabayun kepada pemilik warung, kalau pemilik warung ini memang ternyata jualan saren, ya berarti yang dosa sang pemilik warung,” tutur Gus Dur.

“Kalau panjenengan ke Solo, apa ya datang ke warung ini lagi, Gus?" tanya Hussein penasaran.

"Nggih dilanjut tho mas, wong enak je (Ya dilanjut oh mas, wong enak ini)!” kata Gus Dur, disambut tawa keduanya. 

Saturday, 9 December 2017

Tuhan Tidak Ada


Diamlah.Com Tak ada angin tak ada hujan. Tiba-tiba seorang dosen fisika nyeletuk, “Menurut saya Tuhan itu tidak ada.”

Semua mahasiswa di kelas bengong. “Kok begitu, Pak?”

“Kalian pernah melihat Tuhan?”

“Tidak...!” jawab mahasiswa serentak.

“Ya berarti Tuhan tidak ada!”

Salah seorang mahasiswa merespon, “Bapak pernah melihat akal?”

“Tidak.”

“Ya berarti akal Bapak tidak ada.” 

Penyesalan Gus Dur kepada Anak TK


Diamlah.Com Sindiran termasyhur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) salah satunya ketika mengkritik perilaku para Anggota DPR yang seperti Anak Taman Kanak-kanak (TK). Namun, di balik sindirannya itu, ada yang masih mengganjal pada diri Gus Dur.

Bukan karena mengkritik para anggota di lembaga negara tersebut, tetapi sebab menyamakan Anak TK dengan mereka.

Sore itu Gus Dur duduk-duduk santai dengan Kang Hidayat di pelataran Masjid Al-Munawwaroh Ciganjur, Jakarta Selatan. Di saat itulah Gus Dur mengungkapkan penyesalannya dan merasa berdosa kepada anak-anak TK.

“Saya menyesal telah menyamakan DPR dengan anak TK,” ujar Gus Dur.

“Kenapa Gus, apa karena itu lembaga negara?” tanya Kang Hidayat penasaran.

“Bukan itu. Saya merasa berdosa karena telah meremehkan anak-anak TK yang suci, cerdas, dan kreatif,” jelas Gus Dur lirih.

“Lalu, mereka (anggota DPR) itu pantas disamakan dengan siapa, Gus?” tanya Kang Hidayat lagi.

“Dengan sesama mereka,” jawab Gus Dur. 

Friday, 8 December 2017

Hidup itu Jangan Bulat, Nanti Digoreng Kayak Tahu Dadakan


Derai tawa ala santri menyelimuti acara 1st Santri Writer Summit yang diselenggarakan Kementrian Agama (Kemenag) RI bersama Komunitas Santri Nulis dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di Auditorium Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Sabtu (28/10).

Dalam salah satu motivasi yang disampaikan salah seorang narasumber, Ibrahim Malik mengatakan, hidup itu jangan datar. Artinya, harus selalu berinovasi, melakukan perubahan. Ini yang harus dilakukan para santri.

Namun, dalam sesi tanya jawab, pesan tersebut disahut oleh narasumber di sampingnya, Abdul Wahab, yang masing-masing sama-sama alumni pesantren. Abdul Wahab yang akrab disapa Kang Abdu menimpali dengan khas jenakanya.

"Tadi dikatakan oleh Kang Ibrahim, hidup ini jangan datar, tapi kalau pesan saya, hidup ini jangan bulat!"
Sejenak hadirin diam, lalu pria kelahiran Tegal ini melanjutkan perkataannya, "iya, kalau hidup kita bulat, nanti kita akan digoreng dadakan". Derai tawa hadirin pecah serentak.

Ada hal lucu lain. Alumni pesantren yang pernah mengabdi di Papua dengan berita menebar kasih sayang bersama anjing ini memberikan sekitar 10 bungkus kenang-kenangan kepada para peserta seminar usai acara dengan beragam kuis.

Di bagian akhir kuis, Kang Abdu tampak kehabisan pertanyaan. Namun ia tak kehabisan akal, mengingat acara ini dihelat di UI Depok, ia bertanya kepada hadirin.

“Ya sudah, siapa Wali Kota Depok?”

Tidak seperti pertanyaan ringan sebelumnya yang menjadi rebutan, hadirin yang didominasi orang luar kota hampir semua diam. Tampak hanya ada satu wanita yang duduk di depan bagian kanan mengacungkan jarinya. 
“Ya kamu,” kata founder media Santri Online ini. 

“Idris Abdus Shamad,” jawab wanita yang ditunjuk.

Tampak Kang Abdu bingung. Dia lalu tanya orang-orang di sampingnya serta beberapa hadirin ternyata tidak banyak yang tahu. Dia sendiri tidak tahu siapa wali kota Depok itu. Sebab, ia juga tidak berdomisili di Depok.

Untungnya, satu fotografer dari unsur panitia yang berani dengan tegas membenarkan jawaban wanita tersebut. “Iya, benar, benar.” Hadirin pun kembali terpingkal-pingkal.