Showing posts with label Viral. Show all posts
Showing posts with label Viral. Show all posts

Tuesday, 30 January 2018

Membaca Itu Baik, Bekomentar Harus Positif


Diamlah. com Akhir-akhir ini saya sering ditambahkan menjadi anggota grup Whatsapp (WA), tidak satu atau dua grup. Kelihatannya grup Whatsapp telah menjadi media bagi sekumpulan orang yang memiliki niat agar dimudahkan komunikasinya, dan grup WA terbukti efektif, seperti; rapat dalam urusan kerja bisa dilakukan di mana saja, kepentingan komunikasi bisa dengan mudah disampaikan secara masal, begitupun dengan undangan pernikahan, sunatan sampai tahlilan, hanya sekali klik seluruh anggota grup sudah mengetahui. Grup WA bisa juga dijadikan sebagai media promosi sebuah produk dagangan, yang pasti banyak manfaatnya.

Namun, kemudahan itu dan keefektifan tersebut banyak dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu pula, seperti: menyebarkan berita-berita hoaks, membagikan tulisan-tulisan yang melenceng dari data, sampai pada ujaran kebencian, dan (mungkin) agenda politik.

Disayangkan, seringkali anggota grup menelan mentah-mentah informasi yang diterima, dan meyakini tulisan yang dishare oleh seorang anggota grup adalah benar. Saya ambil contoh, belum lama, dan mungkin sudah lama berita ini tersebar (tapi mulai booming kembali di grup WA), mengenai tulisan dari mantan pemeluk agama Hindu (katanya) menyatakan, ritual 7 hari, 40 hari, 100 hari orang meninggal, dan seterusnya adalah warisan dari tradisi Hindu, dan tercatat/termaktub dalam kitab agama Hindu, setelah saya lihat, kebetulan saya punya Samaveda Samhita, dari penerbit Paramita Surabaya, sangat jelas bertentangan dan berbeda dari tafsir ayat-ayatnya, jauh melenceng.

Hal tersebut hanya sekulumit contoh saja, bahkan kadang berita ‘basi’-pun masih sering di-share. Belum lama, saya mendapatkan share, al-Qur’an yang diterbitkan oleh Penerbit Suara Agung, dikatakan dengan sengaja menghilangkan surat Al-Maidah ayat 51-57, dan itu disebarkan dengan bahasa yang profokatif.

Namun, setelah saya coba telusuri kebenarannya, saya mendapatkan klarifikasi dari website resmi penerbit tersebut, dan itu mutlak kesalahan yang tidak disengaja, ayat tersebut tidak hilang namun ada kesalahatan cetak, seharusnya tercetak pada halaman 117, tapi tercetak pada halaman 113. Dan pada tahun 2015 sudah ditarik dari peredaran, untungnya baru 400 eksmplar yang terdistribusi, sisanya 5.000 eksmplar lebih dimusnahkan. 

Sesungguhnya, informasi-informasi tersebut baik untuk disampaikan, sebagai kontrol masyarakat. Tetapi, terkadang bahasa yang digunakan pengunggah awal tidak ramah lingkungan, akhirnya hanya menyisahkan kebencian bagi penerima berita. Didukung lagi tidak berimbangnya antara ‘minat baca, minat komentar, dan minat share’.

Harus kita akui, pemagang gadget/smartphone, dan pengguna Medsos memiliki ‘minat share dan minat komentar’ yang tinggi, tapi tidak berimbang dengan ‘minat bacanya’. Sebaiknya, kita jangan terlalu mudah membagikan informasi-informasi—secara data meragukan (apalagi memuat ujaran yang tidak laik konsumsi), alangkah indahnya—jika kita mencoba menelusuri sumber beritanya dan kebenarannya terlebih dahulu. 

Kita semua juga tahu, bagaimana minat komentar pengguna Medsos, ambil contoh tak usah jauh-jauh, postingan-postingan di Facebook NU Online, seperti tulisan-tulisan saya yang dipublikasikan di NU Online, setiap saya melihat komentar di FB NU Online, banyak komentar bertolak belakang dengan esensi ide tulisannya.

Kenapa itu bisa terjadi? Karena mereka hanya melihat seklumit deksripsi dan judulnya saja, tanpa membaca konten isi tulisan, lagi-lagi minat baca kita “jongkok”. Kita lebih asyik mengomentari, membagikan tanpa mengetahui “isi”-nya. Kalau demikian, bagaimana kita mau menyaring mana yang benar dan keliru, jika kita hanya melihat kulitnya saja?

Fenomena ini bagi saya sedikit meresahkan. Secara tidak langsung, telah lahir otoritas baru diluar kontorl para ahli. Aktifitas bershare-ria susah untuk dibendung, memang tidak ada yang salah, tapi menjadi salah ketika tulisan/berita itu salah, dan parahnya dianggap benar oleh kebanyakan orang sehingga menjadi dalil (seakan-akan) paling shoheh. 

Pola ini yang harus kita rubah, sebagai manusia kita harus menyadari, Allah SWT telah menghadiahkan bingkisan luar biasa berupa ‘akal’, sebab itu manusia menjadi ahsan taqwim (makhluk paling mulia). Manusia harus cermat memilah-memilih, mana konten yang laik di-share dan mana yang tidak, kemudian mana komentar yang sesuai dengan isi konten tulisan, tidak malah bertengkar atau mengubar ujaran paling benar antara satu dan lainnya. Kita harus lebih cerdas lagi.

Karena begini, setiap informasi tidak bisa dijadikan sebagai standar otoritas fatwa, apalagi standar kebenaran (begitupun dengan tulisan ini), apalagi tulisan-tulisan yang tersebar di grup WA dan Medsos. Otoritas yang mempunyai makna adalah otoritas yang memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah, tidak hanya sebatas simbol-simbol yang tidak bisa dijelaskan secara kebenarannya, apalagi informasi-informasi yang berisi sampah hoaks, jelas tidak memiliki otoritas babar-blas.

Meminjam pernyataan Haidar Bagir dalam buku Islam Tuhan, Islam Manusia, menyatakan, otoritas bisa diterima dalam makna yang sesuai dengan makna-asli ajektif, yakni yang bersifat ilmiah. Semua itu diyakini karena al-Quran sebagai otoritas tertinggi dalam Islam, mengajarkan bahwa agama Islam adalah untuk orang-orang yang berakal, Nabinya pun dengan tegas mengatakan, “tak ada agama bagi orang yang tak berakal.”

Artinya, kita tidak diizinkan ‘serampangan’ dalam menentukan sebuah kebenaran, harus ada otroritas yang jelas, secara sumber, fakta, dan keabsahan sebuah berita/tulisan. Kebanyakan dari kita tidak fokus pada pencarian kebenaran, kita malas untuk menganalisis ulang. Apalagi komentar-komentar yang tercecer dalam Medsos, hanya menyisihkan permusuhan-permusuhan pendapat yang sama sekali (belum menjamin) kemungkinan benar, hanya kesombongan semata.

Minat share dan minat komentar, harus dibarengi dengan minat baca, dengan kata lain, membiasakan mencari sumber yang jelas dan harus dipelajari terlebih dahulu. Di sini kita membutuhkan sebuah perangkat ‘alat perang’, yaitu perang melawan hawa nafsu. Karena nafsu menjadi ingin ‘manfaat’ di zaman digital sekarang, belum tentu menyebarkan kemanfaatan mutlak secara universal. Apalagi dorongan menjadi manfaat tersebut, dibarengi dengan nafsu merasa benar. 

Di era digital sekarang, harus disadari banyak jebakan yang mengintai, tidak hanya kemanfaatan yang bisa menjadi salah, agama pun jika dikendalikan oleh ‘pendekar yang berwatak jahat’ bisa juga salah. Analoginya, tangan kita yang mempunyai fungsi untuk menulis, makan, minum, menggendong, dengan berbagai macam fungsi ‘baik’nya, akan menjadi salah jika difungsikan untuk memukul orang, menampar, membunuh, dan sebagainya. Maka dari itu, dalam sebuah riwayat disebutkan, kelak nanti, seluruh organ tubuh kita akan dimintai pertanggung jawaban, dan mulut akan membisu. 

Harus Anda sadari pula, berita hoaks dan tulisan yang bersumber ngawur, bukanlah sebuah argumen ilmiah dan bukan juga pendapat yang shoheh, melainkan hanya untuk menggiring opini kita supaya mengikuti alur si pembuat berita, dengan berbagai macam kemungkinan kepentingan.

Namun, jika sebuah tulisan dan berita itu bersumber jelas, harus Anda ‘amini’, bahwa itu adalah khazanah pengetahuan. Dan kita harus sebisa mungkin mempunyai prinsip, sebuah pendapat mempunyai dua kemungkinan, pendapat Anda mempunyai peluang salah dan benar, begitupun dengan pendapat saya. Tapi, lagi-lagi itu adalah hak seseorang untuk berpendapat, tidak bisa kita batasi. Dan si tukang komentar tidak usah bertengkar karena itu.

Kita harus meyakini, kebijaksanaan, kebaikan, hikmah, dan segala rupanya yang positif terdapat di mana-mana, bahkan dalam pendapat yang tidak kita sepakati sekalipun. Lalu, kewajiban kita sebagai seorang yang ingin menaikan taraf kualitas diri, harus ‘memungutnya’. Sekali lagi, bukan malah perang komentar. 

Semua itu bisa dilakukan, asalkan minat baca, minat menganalisis, dan minat mempelajari lebih diutamakan, daripada minat mengomentari dan minat share. Jangan, jangan dulu dibagikan, jangan dulu dikomentari, kalau Anda belum benar-benar paham tentang isinya. Karena bisa saja Anda terjebak dalam kemanfaatan semu, hanya gara-gara dibuai dengan kata-kata, “Jangan berhenti pada Anda, sebarkan kemanfaatan ini kepada teman-teman Anda.” (mungkin itu jebakan). Baca lagi, teliti lagi, dan pelajari lagi. Biasakan melakukan hal-hal tersebut. 

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah antologi puisi, In The Mecca, Gwendolyn Brooks (1917-2000 M) mengatakan: “One reason that cats are happier than people is that they have no newspapers—satu alasan kenapa kucing lebih bahagia dari manusia adalah, bahwa mereka tidak memiliki koran.” Apalagi Whatsapp, begitupun dengan grup WA dan Medsos.

Monday, 29 January 2018

Arti Sebuah Kopi Dalam Kehidupan


Diamlah. com Kopi, minuman hasil dari biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Kopi ditemukan secara tidak sengaja sekitar tahun 800 SM/850 SM oleh seorang penggembala yang bernama Khalid. Di Indonesia sendiri, kopi dikenalkan oleh bangsa Belanda. Mereka pula lah yang membudidayakan dan menyebarluaskan kopi di wilayah perkebunan Indonesia.

Kopi, sederhana memang; tentang kopi, mungkin orang hanya mengira itu minuman penghangat di pagi atau sore hari. Akan tetapi, dibalik kesederhanaan kata kopi, tersimpan banyak makna dan cerita. Secangkir kopi seringkali menghadirkan cerita bagi penikmatnya. Tak jarang ide-ide besar muncul dari setiap seduhan kopi.

Minuman ini beraroma. Jika tersentuh lidah akan terasa pahit, sedikit asam ketika berada di tenggorokan, dan hangat tentu saja. Pada setiap tegukan akan muncul sensasi yang bisa membuat penikmatnya melayang-layang. Sedikit lebay memang, tapi begitulah gambaran dari penikmat kopi yang pernah saya dengar. Bagi mereka, menikmati kopi berarti mencintai satu paket rasa dalam kopi tersebut, pahit, manis, asam dan panas.

Ada filosofi dibalik kata kopi. Ya, kali ini saya tertarik untuk bicara makna dari cara memegang gelas kopi. Memegang gelas kopi ternyata tak sesederhana terlihat; ada kandungan makna filosofi di dalamnya. Andrea Hirata menyebut kopi bagaikan ensiklopedia tebal tentang watak manusia. Dalam bukunya Buku Besar Peminum Kopi (buku ini disebutkan dalam penggalan novelnya yang berjudul cinta di dalam gelas), ia menyebut beberapa temuan unik tentang cara meminum kopi.

Pertama, gelas kopi yang dipegang dengan cara dicengkram, dan kelima jari menempel di gelas menandakan orang tersebut sedang gelisah.  Kedua, pegangan tangan di bawah gelas kopi menceritakkan tentang kematangan pendirian dan kebijakan bersikap. Jemari yang dilingkarkan di bagian bawah gelas menandakan bahwa mereka adalah orang-orang tenang bisa diandalkan.

Ketiga, mereka yang memegang gelas kopi dengan ujung jempol dan ujung jari tengah saja, di bagian tengah gelas, pertanda menderita karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Keempat, mereka yang menjepit gelas kopi dengan jari telunjuk dan jari tengah, kedua jari sejajar, kemudian pada sisi gelas sebaliknya menjepit dengan jari manis dan kelingking adalah suatu tindakan bodoh sebab akan membuat gelas tak seimbang dan menumpahkan kopi. Namun, ketika ketidakseimbangan tersebut ditegakkan dengan ujung jempol, mengisyaratkan orang yang ingin aspirasinya didengar dan kemampuannya diakui. Terakhir, orang yang memegang gelas kopi di bibir gelas paling atas itu karena kopinya panas.

Apa yang disampaikan Andrea Hirata bisa benar, bisa salah, dan tentu saja juga bisa mengada-ada. Sungguhpun begitu, saya juga tertarik berbicara sesuatu tentang kopi; berdasarkan sudut pandang saya, tentu saja.

Saya memang bukan penikmat kopi. Akan tapi saya tertarik dengan orang-orang yang sangat menggilai kopi. Melihat mereka menikmati kopi seakan mengajarkan saya bagaimana caranya menikmati hidup. Penikmat kopi pahit mengajarkan bahwa hidup ini tidak selalu indah. Ada saat dimana hidup harus terasa menyakitkan. Namun, akan terasa berbeda ketika dicampur dengan gula. Hal ini dapat diperbandingkan dengan kenikmatan hidup yang selalu bersembunyi di sisi lain pahitnya hidup. Ada kemudahan di setiap kesulitan, akan ada solusi di setiap permasalahan, akan ada hikmah dibalik musibah.

Segelas kopi juga mengajarkan tentang makna pentingnya mencapai sebuah hasil (rasa) yang nikmat. Meracik, menunggu menjadi hangat, dan menyeduh, merupakan rangkaian proses untuk menikmati rasa tersebut. Kopi bukan hanya sekedar air pelepas dahaga. Kopi diseruput layaknya mengeja kata per kata dari sebuah makna kehidupan. Satu hal yang paling saya suka ketika melihat orang yang sedang menikmati kopi, mereka seolah memperlihatkan kharisma dan ketajaman empati dalam menikmati hidup. Beban mereka seakan hilang dalam setiap seruputan hangatnya kopi

Saturday, 27 January 2018

Asap Vape VS Asap Rokok Tembakau, Manakah Yang Lebih Berbahaya?


Diamlah. com Rokok Elektrik lebih populer disebut dengan vape, menggunakan tenaga baterai untuk memanaskan dan menguapkan cairan vape yang biasanya mengandung nikotin. Uap cairan ini kemudian dihirup oleh pengguna saat mereka menekan tombol pada perangkat vaporizernya dan menghembuskan asap vape ke udara lepas. Haruskah para non-perokok khawatir soal potensi efek samping dari menghirup udara yang sudah bercampur dengan asap vape, layaknya bahaya menghirup asap rokok tembakau?

Apa yang terkandung dalam asap vape?

Secara teknis, para pengguna vape tidak bisa digolongkan sebagai perokok. Mereka tidak merokok, melainkan hanyalah “vaping.” Artinya, mereka menggunakan vaporizer sebagai alat inhaler yang bertenaga baterai. Tidak seperti rokok tembakau yang dibakar, vape memproduksi uap melalui sistem pemanasan. Sementara itu, rokok tradisional melibatkan pembakaran tembakau menggunakan api yang melepaskan emisi kimia beracun ke udara. Sisa pembakaran beracun inilah, alias asap rokok, yang telah menyebabkan kebijakan kesehatan masyarakat yang meluas untuk melarang merokok di ruang publik.

Namun demikian, “Menganggap bahwa asap vape yang dilepaskan ke udara hanya berupa uap air tidak sepenuhnya tepat,” tandas Tobias Schripp, seorang peneliti dari Fraunhofer Institute di Jerman yang telah mempelajari seluk-beluk rokok elektronik, dilansir dari Washington Post.

Cairan yang digunakan di sebagian besar perangkat vape terdiri dari empat bahan utama: propilen glikol, gliserin nabati, nikotin, perasa tambahan, dan mungkin juga mencakup bahan kimia lainnya. Setelah dipanaskan, cairan tersebut menguap menjadi kabut asap yang dihirup seperti asap rokok tembakau sebelum akhirnya akan dilepaskan ke atmosfer.

Lebih lanjut Schripp menjelaskan, selain partikel uap air, asap vape juga mengangkut partikel nikotin ultra-halus, senyawa polutan organik yang mudah menguap, dan hidrokarbon yang berpotensi karsinogenik lainnya ke udara — bahkan di ruangan yang berventilasi mumpuni. Satu fakta ini saja bisa mengkonfirmasi bahwa rokok elektrik tidak sepenuhnya bebas polusi.

Bahayakah jika kita ikut menghirup asap vape?

Studi dan bukti ilmiah kuat yang menyoal efek kesehatan dari paparan asap vape pada orang yang menghirupnya masih sangat terbatas. Tapi, kebanyakan pakar kesehatan sejauh ini berspekulasi bahwa paparan polutan dari rokok elektrik mungkin bisa memicu masalah kesehatan karena partikel super halus yang terangkut bersama asap mungkin dapat menumpuk di paru-paru. Paparan terhadap partikel super halus dapat memperburuk masalah pernapasan yang dimiliki seseorang, misalnya asma, dan menyempitkan pembuluh darah yang bisa memicu serangan jantung.

Propilen glikol, misalnya. Penggunaan bahan ini pada beberapa produk resmi disetujui oleh FDA. Tapi, metode penghirupan nikotin uap yang di dalam propilen glikol tidak disetujui penggunaaanya. Beberapa studi menunjukkan bahwa pemanasan propilen glikol mengubah komposisi kimianya, sehingga memproduksi sejumlah kecil propilena oksida — senyawa karsinogen yang teridentifikasi bahayanya. Paparan inhalasi jangka pendek terhadap zat ini menyebabkan iritasi mata, tenggorokan, dan saluran napas, sementara paparan jangka panjang dapat mengakibatkan anak menderita asma.

“Asap vape menghasilkan efek ringan pada paru-paru, termasuk peradangan dan kerusakan protein,” kata Dr Thomas Sussan, penulis utama dan asisten ilmuwan di Departemen Ilmu Kesehatan Lingkungan di Bloomberg School, dilansir dari Medical Daily.

Sussan dan rekan setimnya Dr. Shyam Bishwal menemukan adanya peningkatan kerentanan pelemahan sistem imun tubuh dan infeksi pernapasan pada tikus percobaan yang ditempatkan dalam ruangan berisi asap vape. Beberapa tikus yang terkena asap vape bahkan dilaporkan meninggal pada akhir penelitian.

Mereka menduga efek merugikan pada sistem kekebalan tubuh ini mungkin dipicu oleh radikal bebas, racun yang sangat reaktif yang juga ditemukan dalam asap rokok tembakau dan polusi kendaraan bermotor yang dapat menyebabkan kematian sel dengan merusak DNA dan molekul lain dalam sel tubuh.

Asap vape tetap lebih baik dari asap rokok tembakau

Tingkat paparan racun yang dihasilkan dari rokok elektronik dianggap lebih rendah dari rokok tradisional. Tetapi hanya beberapa karsinogen dalam asap vape yang telah berhasil diidentifikasi sejauh ini, dan para ilmuwan belum berhasil mengidentifikasi semua partikel yang ada di formula ini. Variasi dalam isi produk, desain, dan gas buangan juga menunjukkan bahwa beberapa produk menghasilkan sedikit paparan racun, sedangkan yang lain dapat menimbulkan risiko yang lebih besar.

Kesimpulannya, jika dihadapkan oleh dua pilihan: menghirup asap vape atau asap tembakau, para pakar tampak sepakat bahwa peluang kesehatan Anda akan lebih baik jika bernapas dalam uap dari asap vape daripada asap rokok tembakau. Asap tembakau mengandung ribuan bahan kimia, 60 dari bahan kimia ini merupakan karsinogen yang dikenal, sementara karsinogen dari uap vape hanya segelintir. Oleh karena itu, risiko kesehatan secara keseluruhan dari asap vape tetap cenderung jauh lebih rendah daripada paparan asap tembakau dalam ruangan.

Friday, 26 January 2018

Kisah Pria Lumpuh Yang Nekat Melakoni Olahraga Panjat Tebing.


Diamlah. Com Lai Chi Wai, seorang pria lumpuh asal Hong Kong sukses menaklukkan tebing setinggi 500 meter. Aksi tersebut dilakukannya dengan memakai kursi roda.

Lai Chi Wai adalah seorang atlet panjat tebing yang pernah memenangi kejuaraan Asian Rock Climbing Championship sebanyak empat kali. Namun, pada 9 Desember 2011 silam, ia mengalami sebuah kecelakaan hebat yang membuat kedua kakinya lumpuh total.

Kelumpuhan itu membuat Lai merasa kariernya sebagai pemanjat tebing berakhir. “Saya tidak ingat persis bagaimana kejadiannya. Ketika bangun saya berada di kamar rumah sakit. Salah satu perawat memberitahu jika saya lumpuh dan harus berada di kursi roda seumur hidup,” kata Lai.

Kendati demikian, kejadian tragis itu tidak membuat Lai menyerah. Setelah keadaannya pulih, ia memilih menggeluti olahraga tinju. Menurutnya, olahraga dapat meningkatkan kebugaran fisik dan mengembalikan rasa percaya dirinya.

Pada 2014, bertepatan dengan kelahiran putranya, Lai terobsesi untuk melakukan olahraga panjat tebing lagi. Di hadapan teman-temannya, ia bertekad untuk menaklukkan Lion Rock, salah satu terbing terkenal di Hong Kong.

Rencana Lai itu membuat beberapa rekannya khawatir. Beberapa di antara mereka meragukan kemampuannya. Pasalnya, selama ini Lion Rock dikenal sebagai salah satu tebing berbahaya. Hanya pendaki handal yang mampu menaklukkan tebing tersebut. Kendati demikian, Lai tak patah semangat, ia merasa yakin dapat menaklukkan tebing tersebut.

Akhirnya, Lai melaksanakan rencananya pada, Jumat (9/12/2016). Dengan bantuan seutas tali, ia berusaha memanjat tebing vertikal yang curam itu. Usahanya pun membuahkan hasil. Ia menjadi penyandang paraplegia alias orang yang mengalami kelumpuhan pada kedua kaki pertama yang sukses mencapai puncak Lion Rock, Hongkong.

“Saya telah memenuhi janji untuk memanjat tebing Lion Rock. Saya telah membuktikan jika saya mampu melakukan olahraga ini,” kata Lai di laman Facebook.

Semua dokumentasi perjuangan Lai menaklukkan Lion Rock itu diunggah ke media sosial. Aksinya itu membuat para pengguna Internet (netizen) terharu. Berkat kegigihannya, netizen memberikan julukan King of Lion kepada Lai. 

Friday, 19 January 2018

7 Negara dengan Kecepatan Internet Tercepat, Indonesia ke Berapa Ya?


7 Negara dengan Kecepatan Internet Tercepat

1. Korea Selatan

Korea Selatan menjadi negara yang memiliki koneksi internet paling cepat di dunia, yakni memiliki kecepatan kurang lebih 27 Mbps. Salah satu faktor yang membuat negara ini menjadi negara dengan koneksi internet tercepat adalah pemerintahnya yang telah memprioritaskan internet sejak 10 tahun lalu dan mendorong semua warganya untuk menggunakan komputer dengan biaya internet yang cukup murah.

2. Swedia

Swedia memiliki koneksi internet yang juga cukup cepat, yakni sekitar 21 Mbps. Dalam hal koneksi internet, pemerintah telah melakukan investasi infrastruktur yang luas sehingga seluruh warga negaranya dapat menikmati akses internet dengan sangat cepat.

3. Hongkong

Meski penduduk di negara ini cukup banyak, pemerintah Hongkong telah meningkatkan kecepatan koneksi internet untuk para warganya, yakni sekitar 20 Mbps. Pemerintah telah melakukan peningkatan fasilitas penunjang koneksi internet di setiap tempat sehingga warga negara yang tidak tinggal di kota tetap dapat menikmati akses internet yang cepat ini.

4. Swiss

Sama seperti Hongkong, Swiss memiliki koneksi internet dengan kecepatan kurang lebih 20 Mbps. Pemerintah Swiss telah menggunakan akses broadband yang akan disambungkan dengan telepon dial-up sebagai area pertumbuhan utama. Sedangkan jaringannya menggunakan DSL yang disambungkan ke broadband.

5. Singapura

Salah satu negara ASEAN ini memiliki koneksi internet sekitar 19 Mbps. Meski negara ini kecil, Singapura telah didukung oleh fasilitas untuk mengakses koneksi internet di mana saja sehingga warga negaranya dapat mengakses dengan bebas. Pemerintah Singapura telah mengikuti kebijakan Hongkong dalam koneksi internet yang bisa dinikmati oleh seluruh warga negaranya.

6. Jepang

Negeri Sakura ini memiliki kecepatan koneksi internet yang sama dengan Singapura, yakni sekitar 19 Mbps. Jepang menggunakan fiber optic untuk menyalurkan koneksi internet kepada seluruh warganya. Dengan adanya fiber optic, internet di sana akan lebih stabil dan sangat jarang mengalami gangguan.

7. Amerika Serikat

Meski merupakan negara yang menjadi pusat dunia, Amerika Serikat hanya memiliki kecepatan internet kurang lebih 17 Mbps saja. Meski tergolong cepat, namun Amerika Serikat masih kalah dengan 6 negara di atas dalam daftar ini. Pemerintah pun berencana menggunakan broadband kurang lebih 100 ribu yang digunakan untuk infrastrukturnya.

Nah, itulah 7 negara dengan kecepatan internet tercepat di dunia. Sayang, Indonesia hanya memiliki kecepatan 6 Mbps saja guys. Salah satu faktor yang membuat internet Indonesia lambat adalah masalah perekonomian dan efisiensi. Semoga bermanfaat.

Saturday, 6 January 2018

Smartwatch Alat Untuk Berhenti Merokok


Diamlah. Com Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang sulit dihentikan. Bagi yang ingin menghentikan kebiasaan tersebut di tahun ini, kamu dapat melakukannya dengan bantuan smartwatch.

Perangkat bernama SmokeBeat besutan Somatix ini memiliki kemampuan untuk menghentikan kamu merokok secara real-time. Bagaimana caranya?

SmokeBeat mampu mendeteksi aktivitas merokok berdasarkan gestur mulut di pengguna. Hal ini berkat dukungan sensor yang ditanamkan di dalamnya, beserta data pengguna yang akan dikirimkan langsung ke aplikasi.

Dengan sensor tersebut perangkat ini dikembangkan agar mampu membedakan gestur tangan ke mulut yang berbeda, mulai dari makan, mencukur hingga menggigit jari.

"Untuk memastikan perangkat tak salah mendeteksi, pengguna akan menerima pesan berisi apakah mereka sedang merokok atau tidak," demikian pernyataan perusahaan seperti dikutip Wareable, Jumat (5/1/2017). 

Mengurangi Kebiasaan Merokok

Lebih lanjut, SmokeBeat juga mengumpulkan data riwayat tentang jumlah rokok si pengguna dalam sehari, biaya rokok, waktu yang dihabiskan untuk merokok, hingga bagaimana kebiasaan mereka dapat berubah dari waktu ke waktu.

Adapun SmokeBeat baru-baru ini diuji dalam sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa perangkat ini mampu mendeteksi hingga 80 persen aktivitas merokok dalam sebuah uji coba.

Tak hanya itu, hasil lain menunjukkan bahwa kebiasaan merokok pengguna dapat menurun secara signifikan dengan memakai SmokeBeat.

Wednesday, 3 January 2018

Kiai Dan Penceramah Selebritis


Diamlah. Com Dikisahkan ada seorang pelacur yang datang menghadap Kiai Abdul Djalil Mustaqim, pengasuh pesantren PETA Tungagung. Sang pelacur minta doa ke Kiai Djalil agar dirinya laris. Kiai Djalil mendoakan pelacur tersebut. Selang beberapa minggu pelacur tersebut kembali sowan dan menyatakan diri mau taubat.

Kepada Kiai Djalil pelacur tersebut bercerita, setelah didoakan dia mendapat banyak tamu bahkan dirinya hampir tidak pernah berhenti melayani tamu, sehingga tidak bisa istirahat. Si pelacur merasa tidak kuat lagi menjalani profesinya sehingga memutuskan untuk berhenti dan tobat.

Dalam kisah yang lain disebutkan mengenai kearifan Kiai Chudlori, pengasuh pesantren API Tegalrejo, Magelang yang lebih mendahulukan membeli gamelan daripada membangun mesjid. Dengan keputusan ini seolah Kiai Chudlori memenangkan kelompok pecinta gamelan daripada membela kepentingan Islam. Padahal semua itu dikakukan justru untuk menjaga kerukunan dan ketenteraman sebagai wujud kemuliaan ajaran Islam dan tingginya akhlak kaum Muslimin.

Kisah-kisah seperti ini banyak dijumpai dalam kehidupan kiai dengan berbagai versi. Inilah yang menyebabkan masyarakat selalu merasa terayomi dan terselesaikan masalahnya setelah menghadap kiai. Hati mereka terasa tenang dan jiwanya tentram setelah mendengar wejangan kiai.

Mengapa kiai bisa bersikap seperti itu? Karena kiai hidup bersama masyarakat, selalu berada di tengah masyarakat sehingga bisa mengerti, memahami dan emphati terhadap berbagai problem dan kesulitan hidup masyarakat. Seorang kiai selalu dituntut mencari solusi alternatif untuk memecahkan persoalan umat secara konkret. Bukan sekadar menjadi penceramah yang memberikan khotbah normatif atau menjadi hakim moral yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Laku hidup seperti inilah yang membuat seorang kiai memiliki sikap dan pandangan keagamaan yang arif. Kearifan ini menjadi dasar dalam mengamalkan dan mengajarkan agama dalam realitas yang sangat rumit dan kompleks. Kearifan ini pula yang membuat kiai tidak sembarangan menerapkan teks dan ayat-ayat agama yang membuat mereka mudah menjadi hakim moral terhadap masyarakat. Mereka sangat hati-hati dalam menggunakan simbol-simbol agama, tidak mudah mengobral ayat. Semua ini dilakukan demi menjaga sakralitas agama itu sendiri.

Dalam pikiran para kiai, membuat rakyat hidup rukun, damai dan bahagia jauh lebih penting daripada meceramahi rakyat tentang syariah. Karena bagi kiai inilah cara terbaik mengajarkan dan mengamalkan ajaran agama. Artinya agama harus hadir secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Bukan sekadar retorika di media sosial (medsos) atau di mimbar-mimbar khotbah.

Meski banyak kiai yang punya keahlian ceramah, tapi ceramah-ceramah mereka penuh dengan kesejukan yang mententeramkan. Tidak bikin resah, gelisah karena berbagai caci maki yang menebarkan kebencian dan permusuhan.

Kapasitas dan moralitas kiai yang seperti ini berbeda dengan para penceramah zaman now yang cenderung lebih mementingkan kemampuan orasi dan keterampilan menarik perhatian massa meski dengan ilmu agama yang pas-pasan. Semakin terampil berorasi dan menyampaikan ajaran agama secata tekstual retorik sehingga mampu membuat umat berdecak kagum, maka dia akan semakin populer dan banyak mendapat pengikut. Kearifan dan kesantunan seolah bukan menjadi suatu yang diperlukan bagi penceramah zaman now.

Seorang penceramah tidak perlu memikirkan apakah kebenaran yang disampaikan itu bisa memacing kegaduhan atau tidak, menyebabkan keretakan sosial atau tidak. Bagi mereka kebenaran agama (tentunya yang sesuai dengan pikiran mereka) harus disampaikan. Kalau perlu dengan caci maki dan hujatan agar audience yakin atas kebenaran yang disampaikan. Semakin bisa menghakimi orang lain dan semakin bisa bikin kegaduhan maka akan semakin dianggap pemberani dan hebat.

Inilah yang menyebabkan seorang penceramah merasa tidak perlu bersusah payah memahami konteks sosial masyarakat. Tidak perlu mengerti perasaan dan kesulitan umat yang mengharuskan mereka bergelut dengan realitas secara intens.

Kebutaan atas realitas dan nihilnya rasa empati membuat mereka kehilangan kearifan sehingga mudah tergelincir masuk dalam dunia selebritis. Hanyut dalam gegap gempita tepukan massa. Selain itu sikap seperti ini mudah dimanfaatkan oleh kepentingan politik yang lebih mengedepankan syahwat kekuasaan dan ambisi-ambisi yang bersifat profan dan sempit. Inilah yang membedakan sosok kiai dengan penceramah dan selibritis zaman now.

Kiai mendidik dan menyampaikan ajaran agama dengan menyentuh rasa batin melalui pendidikan dan pembudayaan serta laku hidup yang nyata. Sedangkan penceramah menyampaikan ajaran agama dengan menyentuh dan membakar emosi, mengabaikan rasa. Kiai mengajarkan kebenaran dengan pendekatan kemaslahatan dalam perspektif baik buruk. Sedangkan penceramah sering menggunakan perspektif benar salah dengan cara-cara agitatif, sehingga sering memancing konflik dan kegaduhan.

Misalnya, ketika Kiai Djalil mendoakan pelacur bukan berarti beliau tidak mengerti hukumnya zina. Demikian juga ketika Kiai Chudlori membela kelompok gamelan sehingga lebih mendahulukan membeli gamelan daripada bangun mesjid. Ini bukan berarti beliau menganggap membangun mesjid tidak penting. Sebagai seorang ulama beliau-beliau sangat paham terhadap syariat dan hukum Islam.

Tetapi sebagai kiai yang kuyup dengan kenyataan hidup mereka juga sangat memahami cara dan metode mendidik masyarakat agar bisa menerapkan syariat secara tepat dan akurat dan menjalankannya secara suka rela. Ini bisa terjadi karena sebagaimana dinyatakan Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), “kiai itu yandzurunal ummah bi ainin rahmah" (melihat umat dengan kacamata kasih sayang). Dengan kacamata ini kiai bisa menerima para pelacur dan para pendosa lainnya secara terbuka. Dan mereka-mereka itu merasa nyaman dan tenteram ketika menghadap kiai.

Berbeda dengan kecenderungan penceramah zaman now yang hanya melihat persoalan dari sisi benar salah, sesat dan tidak sesat sesuai pemahaman mereka sendiri. Sehingga mudah marah-marah, menyesatkan dan menghakimi dengan intimidasi moral sebagaimana yang terlihat di berbagai media akhir-akhir ini. Bisa dikatakan penceramah yang seperti ini cenderung "yandzurunal ummah bi 'ainin ghodzob" (memandang umat dengan kacamata marah/benci). Akibatnya umat yang merasa berdosa bukannya jadi sadar tapi malah jadi takut dan menjauh.

Karena hidupnya yang selalu berada di tengah-tengah umat maka tidak jarang kehidupan kiai luput dari perhatian dan liputan media. Tidak seperti penceramah yang setiap saat diliput media. sehingga popularitasnnya bisa menyamai para selebritis. Bahkan lagi plesir diliput dan diunggah di medsos dilarang ceramah karena dianggap provokatif, teriak-teriak di medsos hingga memancing kegaduhan, seolah Islam terancam. Padahal banyak kiai yang hidupnya diancam dan diintimadasi, mereka tetap berdakwah dengan ikhlas dan tenang. Tidak gaduh dan bikin fitnah ke sana-ke mari.

Alangkah baiknya jika para kiai ini bisa tampil di media agar kearifan mereka bisa menjadi teladan. Dan akan lebih baik jika penceramah bisa menjalani laku hidup seperti kiai sehingga memiliki akhlak dan kearifan seperti para kiai. Jika hal ini belum bisa terwujud maka diperlukan kepekaan batin dan kejernihan hati agar tidak mudah terpukau oleh para penceramah yang sudah jadi selebriti, hanya menyampaikan kebenaran tetapi mengabaikan kemaslahatan karena penuh hujatan dan caci maki.

Semoga kita mampu membedakan mana kiai dan mana penceramah yang sudah jadi selebriti.

Penulis adalah Pegiat Budaya, Dosen Pascasarjana UNU Indonesia (UNUSIA) Jakarta.
Kiai dan Penceramah SelebritisAl-Zastrouw Ngatawi.
Oleh Al-Zastrouw Ngatawi

Dikisahkan ada seorang pelacur yang datang menghadap Kiai Abdul Djalil Mustaqim, pengasuh pesantren PETA Tungagung. Sang pelacur minta doa ke Kiai Djalil agar dirinya laris. Kiai Djalil mendoakan pelacur tersebut. Selang beberapa minggu pelacur tersebut kembali sowan dan menyatakan diri mau taubat.

Kepada Kiai Djalil pelacur tersebut bercerita, setelah didoakan dia mendapat banyak tamu bahkan dirinya hampir tidak pernah berhenti melayani tamu, sehingga tidak bisa istirahat. Si pelacur merasa tidak kuat lagi menjalani profesinya sehingga memutuskan untuk berhenti dan tobat.

Dalam kisah yang lain disebutkan mengenai kearifan Kiai Chudlori, pengasuh pesantren API Tegalrejo, Magelang yang lebih mendahulukan membeli gamelan daripada membangun mesjid. Dengan keputusan ini seolah Kiai Chudlori memenangkan kelompok pecinta gamelan daripada membela kepentingan Islam. Padahal semua itu dikakukan justru untuk menjaga kerukunan dan ketenteraman sebagai wujud kemuliaan ajaran Islam dan tingginya akhlak kaum Muslimin.

Kisah-kisah seperti ini banyak dijumpai dalam kehidupan kiai dengan berbagai versi. Inilah yang menyebabkan masyarakat selalu merasa terayomi dan terselesaikan masalahnya setelah menghadap kiai. Hati mereka terasa tenang dan jiwanya tentram setelah mendengar wejangan kiai.

Mengapa kiai bisa bersikap seperti itu? Karena kiai hidup bersama masyarakat, selalu berada di tengah masyarakat sehingga bisa mengerti, memahami dan emphati terhadap berbagai problem dan kesulitan hidup masyarakat. Seorang kiai selalu dituntut mencari solusi alternatif untuk memecahkan persoalan umat secara konkret. Bukan sekadar menjadi penceramah yang memberikan khotbah normatif atau menjadi hakim moral yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Laku hidup seperti inilah yang membuat seorang kiai memiliki sikap dan pandangan keagamaan yang arif. Kearifan ini menjadi dasar dalam mengamalkan dan mengajarkan agama dalam realitas yang sangat rumit dan kompleks. Kearifan ini pula yang membuat kiai tidak sembarangan menerapkan teks dan ayat-ayat agama yang membuat mereka mudah menjadi hakim moral terhadap masyarakat. Mereka sangat hati-hati dalam menggunakan simbol-simbol agama, tidak mudah mengobral ayat. Semua ini dilakukan demi menjaga sakralitas agama itu sendiri.

Dalam pikiran para kiai, membuat rakyat hidup rukun, damai dan bahagia jauh lebih penting daripada meceramahi rakyat tentang syariah. Karena bagi kiai inilah cara terbaik mengajarkan dan mengamalkan ajaran agama. Artinya agama harus hadir secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Bukan sekadar retorika di media sosial (medsos) atau di mimbar-mimbar khotbah.

Meski banyak kiai yang punya keahlian ceramah, tapi ceramah-ceramah mereka penuh dengan kesejukan yang mententeramkan. Tidak bikin resah, gelisah karena berbagai caci maki yang menebarkan kebencian dan permusuhan.

Kapasitas dan moralitas kiai yang seperti ini berbeda dengan para penceramah zaman now yang cenderung lebih mementingkan kemampuan orasi dan keterampilan menarik perhatian massa meski dengan ilmu agama yang pas-pasan. Semakin terampil berorasi dan menyampaikan ajaran agama secata tekstual retorik sehingga mampu membuat umat berdecak kagum, maka dia akan semakin populer dan banyak mendapat pengikut. Kearifan dan kesantunan seolah bukan menjadi suatu yang diperlukan bagi penceramah zaman now.

Seorang penceramah tidak perlu memikirkan apakah kebenaran yang disampaikan itu bisa memacing kegaduhan atau tidak, menyebabkan keretakan sosial atau tidak. Bagi mereka kebenaran agama (tentunya yang sesuai dengan pikiran mereka) harus disampaikan. Kalau perlu dengan caci maki dan hujatan agar audience yakin atas kebenaran yang disampaikan. Semakin bisa menghakimi orang lain dan semakin bisa bikin kegaduhan maka akan semakin dianggap pemberani dan hebat.

Inilah yang menyebabkan seorang penceramah merasa tidak perlu bersusah payah memahami konteks sosial masyarakat. Tidak perlu mengerti perasaan dan kesulitan umat yang mengharuskan mereka bergelut dengan realitas secara intens.

Kebutaan atas realitas dan nihilnya rasa empati membuat mereka kehilangan kearifan sehingga mudah tergelincir masuk dalam dunia selebritis. Hanyut dalam gegap gempita tepukan massa. Selain itu sikap seperti ini mudah dimanfaatkan oleh kepentingan politik yang lebih mengedepankan syahwat kekuasaan dan ambisi-ambisi yang bersifat profan dan sempit. Inilah yang membedakan sosok kiai dengan penceramah dan selibritis zaman now.

Kiai mendidik dan menyampaikan ajaran agama dengan menyentuh rasa batin melalui pendidikan dan pembudayaan serta laku hidup yang nyata. Sedangkan penceramah menyampaikan ajaran agama dengan menyentuh dan membakar emosi, mengabaikan rasa. Kiai mengajarkan kebenaran dengan pendekatan kemaslahatan dalam perspektif baik buruk. Sedangkan penceramah sering menggunakan perspektif benar salah dengan cara-cara agitatif, sehingga sering memancing konflik dan kegaduhan.

Misalnya, ketika Kiai Djalil mendoakan pelacur bukan berarti beliau tidak mengerti hukumnya zina. Demikian juga ketika Kiai Chudlori membela kelompok gamelan sehingga lebih mendahulukan membeli gamelan daripada bangun mesjid. Ini bukan berarti beliau menganggap membangun mesjid tidak penting. Sebagai seorang ulama beliau-beliau sangat paham terhadap syariat dan hukum Islam.

Tetapi sebagai kiai yang kuyup dengan kenyataan hidup mereka juga sangat memahami cara dan metode mendidik masyarakat agar bisa menerapkan syariat secara tepat dan akurat dan menjalankannya secara suka rela. Ini bisa terjadi karena sebagaimana dinyatakan Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), “kiai itu yandzurunal ummah bi ainin rahmah" (melihat umat dengan kacamata kasih sayang). Dengan kacamata ini kiai bisa menerima para pelacur dan para pendosa lainnya secara terbuka. Dan mereka-mereka itu merasa nyaman dan tenteram ketika menghadap kiai.

Berbeda dengan kecenderungan penceramah zaman now yang hanya melihat persoalan dari sisi benar salah, sesat dan tidak sesat sesuai pemahaman mereka sendiri. Sehingga mudah marah-marah, menyesatkan dan menghakimi dengan intimidasi moral sebagaimana yang terlihat di berbagai media akhir-akhir ini. Bisa dikatakan penceramah yang seperti ini cenderung "yandzurunal ummah bi 'ainin ghodzob" (memandang umat dengan kacamata marah/benci). Akibatnya umat yang merasa berdosa bukannya jadi sadar tapi malah jadi takut dan menjauh.

Karena hidupnya yang selalu berada di tengah-tengah umat maka tidak jarang kehidupan kiai luput dari perhatian dan liputan media. Tidak seperti penceramah yang setiap saat diliput media. sehingga popularitasnnya bisa menyamai para selebritis. Bahkan lagi plesir diliput dan diunggah di medsos dilarang ceramah karena dianggap provokatif, teriak-teriak di medsos hingga memancing kegaduhan, seolah Islam terancam. Padahal banyak kiai yang hidupnya diancam dan diintimadasi, mereka tetap berdakwah dengan ikhlas dan tenang. Tidak gaduh dan bikin fitnah ke sana-ke mari.

Alangkah baiknya jika para kiai ini bisa tampil di media agar kearifan mereka bisa menjadi teladan. Dan akan lebih baik jika penceramah bisa menjalani laku hidup seperti kiai sehingga memiliki akhlak dan kearifan seperti para kiai. Jika hal ini belum bisa terwujud maka diperlukan kepekaan batin dan kejernihan hati agar tidak mudah terpukau oleh para penceramah yang sudah jadi selebriti, hanya menyampaikan kebenaran tetapi mengabaikan kemaslahatan karena penuh hujatan dan caci maki.

Semoga kita mampu membedakan mana kiai dan mana penceramah yang sudah jadi selebriti.

Penulis adalah Pegiat Budaya, Dosen Pascasarjana UNU Indonesia (UNUSIA) Jakarta.

Sumber : Nu Online

Tantangan Santri Zaman Now


Zaman telah berubah. Orang berlalu lalang dan bepergian yang dulunya berjalan kaki kini sudah memakai kendaraan. Atau pun orang yang berkomunikasi jarak jauh tidak harus bertemu. Karena sudah ada telepon. Tentunya selain kondisi fisik zaman yang sudah berbeda, tentu teknologi berasal dari pemikiran yang modern juga.

Santri pun demikian. Dari zaman ke zaman harus mampu ikut andil dalam perkembangan zaman. Santri  merupakan penopang bangsa yang perannya tidak dapat dilupakan begitu saja sepanjang perjalanan sejarah bangsa ini. Meskipun dalam buku sekolah tidak tercatat peran santri dulu.

Perkembangan zaman  yang pesat ini tak hanya membawa dampak positif. Banyak sekali hal-hal yang buruk bahkan merusak. Salah satu akibatnya yakni dekadensi moral. Orang perlahan mulai tak peduli akan nilai kemanusiaan. Tanpa berpikir panjang orang dengan mudahnya menciderai  nilai kemanusiaan. Membunuh, menyiksa, melakukan kekarasan, memperkosa serta melakukan kegiatan amoral lainnya.

Hal ini diperparah dengan penguasa yang lalai tugasnya. Tanpa rasa malu mereka merampas hak rakyatnya. Melakukan korupsi besar-besaran tanpa peduli di daerah-daerah rakyatnya menderita. Naasnya, korupsi ini terjadi tidak hanya dikalangan pemerintah pusat saja, akan tetapi sudah mengakar sampai di tingkat pedesaan. Sungguh riskan, mengingat mereka bukanlah orang sembarangan. Bukan orang-orang awam dan jalanan yang tak mengenyam pendidikan tinggi.

Peran santri di era globalisasi

Santri merupakan sebutan bagi orang yang belajar ilmu agama. Dalam percaturan nasional, santri kerap dipandang sebelah mata. Mereka dipandang sebagai kaum kolot. Amat tertinggal akan ilmu pengetahuan. Santri identik dengan tradisional. Hanya sibuk mengurusi urusan agama saja.

Penulis sendiri mempunyai teman yang diremehkan tetangganya karena memutuskan mondok. Tetangganya beranggapan mondok tidak menjanjikan apapun bagi masa depan. Tentu saja anggapan seperti itu tidak benar. Santri tidak hanya mereka yang sibuk di pesantren dengan urusan ilmu agama saja.

Beberapa hari lalu media nasional digemparkan oleh para santri dari pondok pesantren Blitar dan Mojokerto Jawa Timur. Mereka berhasil memenangkan kontes robotik di Jepang. Bukan hanya itu, sebelumnya Malik Khidir santri yang kebetulan kuliah di Fakultas MIPA UGM juga berhasil menjadi juara pertama kejuaran robotik di Amerika Serikat. Masihkah beranggapan santri tidak melek teknologi atau kolot?

Keberhasilan santri berprestasi di atas harusnya menjadi pelecut semangat sekaligus kebanggaan bagi para santri nusantara lainnya. Tetap optimistis menjawab tantangan zaman. Pantang menyerah untuk terus belajar dan belajar. Karena entitas santri sendiri adalah orang yang belajar. Tidak ada kata mantan bagi kata santri

Yang ada sekali santri ia melekat seumur hidup bagi penyandangnya. Indonesia sangat memerlukan peran santri. Dalam sejarah negeri ini, santri mempunyai andil yang amat besar. Menjadi pahlawan yang gigih memerangi penjajah yang mencoba merebut tanah air.

Nabi pernah bersabda, Tholabul ilmi faridhoton ‘ala muslimin wa muslimatin. Mencari ilmu wajib hukumnya bagi orang muslim laki-laki maupun perempuan.

Berdasarkan hadis di atas sudah, saatnya para santri bangkit. Menjadi agent of change (agen perubahan). Tidak hanya belajar ilmu agama saja. Tetapi juga ilmu umum. Ini sesuai hadis nabi. Karena kata 'ilmu tidak diperinci. Bisa saja ilmu agama atau umum. Karena ilmu umum maupun agama sama-sama ilmunya Allah SWT.

Menghadapi  tantangan zaman yang kian  mengglobal. Di semua lini kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, sosial dan budaya. Santri harus mampu menjadi subyek dalam berbagai bidang kehidupan. Mengamalkan ilmu yang ia peroleh dari pesantren. Tidak harus menjadi kiai. Melainkan biasa pejabat, birokrat, insinyur, direktur, pengusaha, dokter, seniman hingga tenaga pendidik bahkan pedagang dan petani serta lainnya.

Santri agen penyelamat ideologi bangsa

Akhir-akhir ini muncul gerakan trans nasional. Mereka membawa ideologi yang tak sesuai dengan realita sosial negeri ini. Tanpa segan atas nama agama mereka melakukan kekerasan.  Mencoba mengubah ideologi yang sudah ada dengan ideologi ekstrim tertentu. Salah satunya islam. Mereka ini tidak hanya merongrong NKRI tapi juga merusak citra islam sendiri.

Melakukan perbuatan radikal demi menegakkan perintah agama. Tak segan-segan membunuh orang yang ideologinya berbeda dengan mereka. Justru ini sangat kontras dengan ajaran islam yang sangat anti dengan kekerasan.  Islam merupakan agama yang ramah. Ia ajaran yang menjadi rahmat bagi alam.

Santri tak bisa menutup mata terhadap realita ini. Santri lahir dari bumi nuasantara. Untuk itu santri harus menghadang gerakan radikalisme teraebut. Melakukan gerakan-gerakan untuk menangkal gerakan radikal. Karena bagi santri Indonesia merupakan rumah bersama. Meskipun bukan negara islam. Ideologi pancasila sudah sejak dulu diterima. Sebab mampu mempersatukan kemajemukan penduduk Indonesia.

Para santri terdahulu sudah menerima Indonesia sebagai negara. Mbah Hasim As'ari  pendiri NU dan ulama lainnya sudah menyepakatinya. Hal ini berarti ada integrasi antara agama dan budaya. Oleh sebab itu sudah kewajiban para santri untuk mengawal dan menjaga NKRI dengan ke-binekaan tunggal ika-nya dari kelompok-kelompok yang menamakan diri mereka islam tapi justru mencoba menghancurkan Indonesia.

Menurut istilah yang populer di NU, al-muhafadhah ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Artinya, menjaga warisan lama yang baik dan mengambil baru yang lebih baik.

Sesuai dengan ungkapan di atas, islam di Indonesia merupakan islam yang khas. Ia berbeda dengan islam negara manapun termasuk timur tengah. Islam yang tumbuh di negara yang bukan islam. Berdialektika dengan kebudayaan lokal. Yang terdiri dari berbagai agama, suku, ras dan etnis.

Hidup dengan tradisi tradisional. Semua hidup berdampingan di rumah yang bernama Indonesia. Demikian pun santri. Ia yang lahir dari bumi pertiwi tak bisa dipisahkan dengan islam di Indonesia atau islam nusantara. Membawa benih benih islam yang dibawa nabi. Islam rahmatan lil alamin.

Penulis adalah alumnus Pesantren At-Taslim Lasem Rembang dan kini melanjutkan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

Sumber ; Nu Online

Wednesday, 27 December 2017

Tato Pintar Buatan Microsoft Bisa Digunakan Untuk Mengendalikan Smartphone


Diamlah. Com Sejak dimulainya era Internet of Things, perangkat pintar semakin mudah ditemukan. Dimulai dari smartphone, smatwatch, smarthome, dan banyak perangkat lainnya yang dibuat semakin pintar. Uniknya lagi, mungkin akan ada tato pintar atau smart tattoo.
Hal ini ditandai dengan adanya kerja sama antara ilmuwan MIT dan tim Microsoft. Mereka tengah mengembangkan tato yang bisa digunakan untuk mengendalikan perangkat pintar di sekitar kita!
Tato Pintar Buatan MIT dan Microsoft
Sekelompok ilmuwan MIT dan tim peneliti dari Microsoft tengah mengembangkan sebuah wearable device yang unik. Bukannya dipakai seperti smartwatch, perangkat ini adalah tato pintar yang bisa digunakan untuk mengontrol perangkat lain. Tato ini bisa digunakan untuk menjadi trackpad, mengontrol smartphone dari jarak jauh, hingga berbagi data lewat NFC.

Seperti yang dihimpun dari The Verge, menurut keterangan ilmuwan MIT, tato pintar ini disebut DuoSkin. Tato ini akan diperkenalkan dalam ajang wearable symposium bulan depan. Penasaran gimana dan apa saja yang bisa dilakukan tato pintar ini? Coba kamu tengok video berikut:
Tato ini dibuat dengan rangkaian sirkuit elektrik khusus. Uniknya, rangkaian sirkuit itu ditutup dengan tinta khusus berwarna emas. Untuk mengaplikasikan tato pintar ini kamu cukup tempelkan seperti saat menggunakan tato temporer. Cukup tempel, gosok dengan kain basah, dan cabut.
Sumber: Jalantikus.com

Saturday, 9 December 2017

Soal Kontroversi Trump Nu dan Wahid Foundation Temui Dubes AS


Diamlah.Com Di tengah maraknya kecaman terhadap pernyataan dan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel, Jumat (8/12) kemarin empat perwakilan dari ormas Muslimat NU, Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU), dan Wahid Foundation diterima oleh Dubes AS Joseph R. Donovan di kantor Kedutaan Besar AS di Jakarta. Mereka tercatat sebagai ormas dan lembaga pertama yang diterima langsung oleh Dubes Donovan.

Kepada Donovan, keempat perwakilan – masing-masing Mursyidah Tohir mewakili PP Muslimat NU, Alissa Wahid mewakili LKKNU dan Jaringan Gus Durian, serta Alamsyah Ja’far dan Tatat mewakili Wahid Foundation – menyampaikan secara khusus aspirasi umat Islam Indonesia terkait isu Palestina. Rombongan mengungkapkan kecaman terhadap kebijakan Presiden Trump yang dinilai telah melukai nalar dan hati umat Islam sedunia.

Mengutip Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, ada beberapa poin yang disampaikan kepada Dubes Donovan. Pertama, keberatan terhadap kebijakan AS atas Jerusalem, yang jelas-jelas bertentangan dengan sejumlah resolusi PBB, seraya meminta Presiden Trump untuk meninjau ulang keputusan tersebut.

”Kebijakan itu bakal memicu ketegangan di negara-negara berpenduduk Muslim, termasuk Indonesia, di samping mengganggu proses perdamaian yang sedang terus diupayakan,” ujar Yenny.

Kedua, menganggap keputusan tersebut sebagai langkah ceroboh dan tergesa-gesa, lantaran lebih didasarkan pada pertimbangan domestik AS ketimbang pertimbangan yang luas dan matang. Apalagi, kebijakan tersebut juga tidak mencerminkan dukungan luas dari masyarakat AS sendiri. Ketiga, menyampaikan kembali gagasan dan sikap Gus Dur terkait kemerdekaan Palestina dengan usulan two state solution (dua negara untuk dua warga) sebagai opsi solusi konflik Israel-Palestina.

Strategi Berlapis

Selain melakukan diplomasi langsung dengan menemui Dubes AS, Jumat kemarin warga NU juga menggelar aksi turun ke jalan untuk menegaskan keberpihakan dan dukungan kepada rakyat Palestina. Ratusan warga NU bersama sejumlah elemen masyarakat yang lain, menggelar demo di depan Kedubes AS di Jakarta. Mereka membentangkan spanduk dan poster berisi kecaman terhadap pernyataan Presiden Trump yang telah melukai dan menyulut amarah umat Islam.

Menurut Yenny Wahid, aksi turun ke jalan dan pertemuan dengan Dubes Donovan hakikatnya merupakan strategi berlapis NU dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. ”Aksi turun ke jalan diperlukan untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina. Namun, kami juga melakukan strategi ’informal diplomacy’,yakni bertemu langsung dengan Dubes AS untuk menyampaikan sikap dan keberatan atas keputusan Presiden Trump. Lewat pertemuan langsung dengan perwakilan resmi negara AS, kami memastikan bahwa suara mayoritas masyarakat Muslim Indonesia telah sampai ke Pemerintah AS,” jelas Yenny.

Yenny Wahid sendiri tidak ikut bergabung dalam pertemuan dengan Dubes Donovan. Saat yang sama, ia sedang berada di Bahrain, diundang untuk menghadiri Manama Dialogue, sebuah forum strategis yang membahas isu-isu terkini di Timur Tengah dan dunia. Termasuk perihal pernyataan kontroversial Trump terkait Jerusalem itu. ”Saya rencananya akan satu panel dengan Menteri Luar Negeri Irak dan Pangeran Turki bin Faisal dari Saudi Arabia,” tutur Yenny.

Wednesday, 6 December 2017

Hindari Selfie Dengan Pose Dua Jari


Diamlah.Com Terlihat sempurna saat berfoto adalah keinginan semua orang. Makanya sekarang banyak smartphone dengan resolusi kamera tinggi serta aplikasi kamera canggih yang bisa mempercantik hasil fotomu.

Tapi selain kamera dan aplikasi, hasil foto yang cantik juga dipengaruhi oleh pose fotomu. Nah, salah satu pose foto andalan banyak orang agar terlihat manis adalah dengan membuka dua jari di depan atau samping muka. Tapi, ternyata ini berbahaya!

Bahaya Pose Foto dengan Dua Jari
Pose foto atau selfie dengan memosisikan dua jari di depan atau samping wajah memang bisa membuat hasil fotomu lebih menarik, tapi sebaiknya dikurangi jika tidak ingin data kamu dicuri. Kok bisa pose foto menyebabkan pencurian data?

Menurut informasi yang dilansir dari PhoneAena, Isao Echizen yang merupakan seorang profesor di Konten Digital dan Media Ilmu Penelitian Divisi National Institute of Informatic, mengungkapkan bahwa dia telah berhasil memperoleh sidik jari dari foto jari yang diambil sejauh 3 meter.

Nah, apa jadinya kalau sidik jari kamu berhasil diambil oleh orang jahat yang tidak bertanggung jawab? Bisa-bisa mereka memiliki akses ke berbagai perangkat kamu yang menggunakan sensor sidik jari. Apalagi jika ke depannya sidik jari dijadikan media identifikasi tunggal.

Kok Bisa Curi Sidik Jari dari Foto Dua Jari?

Seperti disinggung sebelumnya, saat ini banyak smartphone dan kamera yang mampu menghasilkan foto beresolusi tinggi. Dan jika fotonya bagus, kamu pasti mempostingnya di media sosial kan?

Nah, foto beresolusi tinggi yang kamu simpan di internet itulah yang dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Masih ingat kan kalo sidik jari bisa dibobol hanya dengan tinta printer?

Lebih berabenya lagi, sidik jari berbeda dengan PIN atau password yang bisa diganti dengan mudah. Makanya, kurangi kebiasaan foto dengan dua jari terbuka yang digunakan sebagai akses sidik jari ya!

Pengerajin Bambu Raup Omzet Puluhan Juta Rupiah



Diamlah.Com Pertengahan tahun 1991 menjadi awal tetesan keringat perjuangan sejarah Widodo merintis usaha aneka kerajinan bambu. Tanpa berbekal keahlian yang mumpuni dalam pengerjaan kerajinan, ayah tiga orang anak ini bertekad merintis usaha kerajinan dengan otodidak.

Saat ditanya alasan memilih usaha kerajinan yang terbuat dari bambu, pria asal kelahiran Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi ini mengatakan, karena melimpahnya bahan baku ditambah kerajinan bambu ini sudah dilakukan oleh para leluhur di desa setempat.

"Kerajinan bambu ini jika diberikan sentuhan kreativitas tinggi dan perlakuan manajemen yang terukur akan mendatangkan peluang usaha yang menjanjikan. Dari harga beli satu batang bambu Rp 10 ribu mampu menghasilkan keuntungan sampai ratusan ribu. Asalkan ini dikelola dengan manajemen dan kreativitas yang mumpuni," ujar suami Yuli Nengah Reni.

Ia menjabarkan, setiap ruas perbatasan bambu dapat dijadikan sebagai kerajinan asbak rokok dengan harga jual mulai Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Belum lagi anyaman bambu yang lain seperti membuat kap lampu, kotak tisu, songkok, keranjang buah, dan lain-lain. Dulu, awal perintisan hanya bersedia membuat beberapa produk kerajinan yang masih tradisional. Yaitu; kukusan untuk menanak nasi, lasah, tungku, dan irik (erek).

"Seiring bertambahnya waktu, selera konsumen mengalami peningkatan. Sekarang sudah mulai diminati kerajinan modern, yaitu rak, kotak tisu, asbak, dan kap lampu. Kalangan konsumen pun datang secara beragam, mulai dari kalangan tokoh politik, kiai, masyarakat, dan santri," terang Widodo.

Ia mengisahkan perjalanan usahanya tidak hanya ditempuh mulus tanpa rintangan. Pernah ia mengalami kerugian ratusan juta ditambah juga menelan kasus penipuan dengan kedok usaha patungan. Terutama di tahun 2005 saat tragedi bom bali 2.

"Waktu terjadi bom bali saya mengalami total kerugian lebih dari Rp 200 juta. Bagaimana mungkin bisa dibayangkan? Saat itu, tidak ada tamu di Bali. Suasana sangat mencekam. Grafik perekonomian lumpuh total. Tamu mancanegara pada pulang di kampung halamannya sendiri. Barang kerajinan sudah terlanjur dikirim dalam persediaan yang banyak. Akhirnya selang beberapa hari, saya lakukan  peninjauan langsung. Sesampai di sana barang rusak semua. Tidak ada ganti rugi. Pemilik dan penjaga toko pada kabur tanpa tanggung jawab, dan ternyata toko yang ditempati dulu hanya berstatus kontrakan. Cuma bisa terdiam dan badan terasa lemas semua," kenang Widodo.

Justru dengan segala musibah dan rintangan ini, lanjutnya, memberikan pelajaran guna lebih semangat dan terus maju tanpa putus asa. "Memang tragedi ini mengingatkan waktu awal perintisan usaha dulu. Bidang pemasaran membutuhkan perjuangan ekstra tinggi daripada pembuatannya. Saya ingat, hanya dari kabar burung penawaran produk dari tetangga satu ke tetangga lainya. Alhamdulillah sekarang mulai merambah pemasaran sampai luar daerah mulai; Jember, Bali, Surabaya, bahkan sampai Jakarta," terangnya.

Sekarang, usaha yang dirintis dengan modal Rp 500 ribu ini ditambah tanpa bantuan tenaga kerja, mampu; meraup omzet Rp 75 juta, memiliki sepuluh orang karyawan tetap, dan ratusan pekerja dari masyarakat sekitar.

"Alhamdulillah saat kepemiminan Kabupaten Banyuwangi di bawah Abdullah Azwar Anas yang pro terhadap para pelaku usaha mikro menambah keuntungan tersendiri. Adanya puluhan festival dengan diimbangi pembukaan stand pameran untuk para pelaku usaha menjadikan usaha semakin berkembang. Keuntungan yang sangat fantastis," ujar kakek dari empat orang cucu ini.

"Juga saya tergabung dalam market place banyuwangi-mall.com yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Ini adalah gebrakan yang dilakukan pemerintah guna menjawab pemasaran digital. Semoga ke depan Banyuwangi lebih maju," harap pria kelahiran 21 Oktober 1959 ini. 

Hindari Pergaulan Negatif dan Aktifkan Masjid


Diamlah.Com Kepala Bidang Kepeloporan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) Sopti Popiyanti menjelaskan kepada peserta Pelatihan Pemuda Pelopor tentang pentingnya aktif di masjid. Zaman sekarang ini banyak pergaulan anak muda yang mudah terpengaruh lingkungan negatif seperti narkoba, begal, teroris atau hal negatif lainnya. Menurut dia, aktif melakukan berbagai kegiatan di masjid adalah salah satu upaya agar pemuda terhindar dari hal-hal negatif tersebut.

Demikian disampaikan Sopti Popiyanti saat membuka kegiatan Pelatihan Pemuda Pelopor di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros, Selasa (5 /12). 
Pada kegiatan yang mengusung tema Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid Sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI ini, Poppy berharap, dengan diadakannya kegiatan pelatihan pemuda pelopor ini agar jiwa dan mental para pemuda tidak kosong dan mempunyai etika dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

Selain itu, dengan melibatkan diri di masjid, nantinya para pemuda mempunyai beban moral, sehingga jauh dari perilaku yang negatif.
"Jadi ada beban," ucapnya. 
Ia mengaku yakin, dengan pemuda aktif dan melakukan berbagai aktivitas di masjid, maka mereka akan terhindar dari perilaku negatif. 

Pada kegiatan yang diikuti peserta sebanyak lima puluh orang ini, Poppy meminta kepada peserta untuk mengajak pemuda yang lain agar rajin ke masjid dan berbuat positif. 
"Itu tugas adik-adik sekalian terutama yang ikut pelatihan ini," katanya. 
Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari berbagai organisasi kepemudaan seperti IPNU, IPPNU, PMII ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). 

Hadir pada pembukaan Pelatihan Pemuda Pelopor hari kedua ini Sekretaris PWNU Sulawesi Selatan Hasid Hasan Palogai, Ketua PCNU Kabupaten Maros H A Mannan Hasan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros H Syamsuddin, Sekretaris LTM PBNU H Ibnu Hazen, Wakil Sekretaris LTM PBNU Syarif Hidayat, Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) H Sarmidi Husna. 

Tuesday, 5 December 2017

Apa Sih Generasi Micin Itu.?


"Dasar genarasi micin" menjadi kalimat populer kembali belakang ini. 
Kalimat itu biasanya juga akan bersamaan atau terkait juga dengan istilah yang tidak kalah populenya, kidz atau kids zaman now.
Kalimat tersebut ditujukan pada kumpulan remaja dengan tingkah yang bikin geleng-geleng kepala.

Biasanya kalimat ini akan ditemani dengan istilah "generasi micin."
banyak yang bilang, generasi micin merujuk pada anak jaman sekarang yang melakukan hal bodoh karena nggak berfikir lebih dahulu.
Lebih absurdnya lagi, banyak warganet yang menganggap bahwa mreka terlalu banyak mengkonsumsi penyedap rasa.
Sehingga, anak-anak zaman sekarang tersebut 'tidak memakai otak dalam bertindak'.
Kalau dikulik lebih jauh, rupanya ada awal mula generasi micin yang sempat dibicarakan warganet lho.
Seorang warganet pun berhasil menemukan sosok yang dianggapnya bertanggungjawab atas viralnya generasi micin ini.

Hal itu berawal dari postingan akun Twitter @ridu.
Menurut penelitian kocaknya, sang penemu atau bapak generasi micin adalah Rhoma Irama.
Dalam cuitannya tersebut terlihat foto Rhoma Irama yang masih muda sedang mempromosikan kemasan penyedap rasa.
Namun, Rhoma Irama hanya sebatas bintang di poster iklannya saja.
Saat di iklan televisi, bintang utama dari iklan penyedap rasa ini adalah Sang Ratu Dangdut Elvy Sukaesih.
Yah, kalau mengikuti penelitian konyol @ridu tadi, si Elvy ini bisa dianggap sebagai ibu generasi micin.

5 Kelakuan Unik Kids Zaman Now


Diamlah.Com Kelakuan “kids jaman now” memang akan membuat siapapun geleng-geleng kepala. Eits, sebelum membahas soal perlikau mereka yang memang unik, pertanyaannya adalah kamu sudah sangat sering kan mendengar atau pun membaca tulisan tentang “kids jaman now”? Hmmm, nggak ada yang istimewa sih, hanya penggabungan kata dalam bahasa Inggris dan Indonesia aja. Terdengar unik, lucu, dan berbeda, seperti karakter anak-anak muda zaman sekarang.

BACA JUGA
Hari Batik Nasional: Perkenalkan Ini Batik Maos Cilacap, Keren!
10 Potret Puspa Dewi, Wanita 50 Tahun yang Dikutuk Selalu Muda!
Ruben Onsu Benarkan Dewi Perssik Menikah
Banyaknya platform media sosial sepertinya juga telah membantu anak-anak generasi milenial untuk lebih mengekspresikan diri mereka. Nggak cuma lewat foto, tetapi juga video dan kata-kata yang di posting ke media sosial mereka masing-masing. Ya, namanya juga media sosial, semuanya seakan tanpa ada batas. Nggak heran kalau kini kamu sering melihat beberapa foto, video, atau posting-an dari “kids jaman now” yang viral di dunia maya.



Ya, meskipun ada pengaturan “private” di masing-masing media sosial, tapi nggak menutup kemungkinan kalau postingan kamu di unggah kembali oleh orang lain. Makanya hati-hati yaa kalau mau mengunggah sesuatu. Kalau yang diposting adalah sesuatu yang positif lalu mendadak viral sih semua pasti nggak ada yang menolak.

Tapi, bagaimana jika postingan tersebut negatif? Dijamin yang malu bukan kamu seorang, tapi juga keluarga, teman-teman satu tongkrongan, para tetangga di dekat rumah, nama daerah tempat tinggal kamu, sekolah. Ya, pokoknya semua yang berhubungan sama kamu akan kena dampaknya. Lalu, apa saja kelakuan “kids jaman now” yang bikin geleng kepala? Selengkapnya di bawah ini ya.

1. Belum Punya SIM, tapi Sudah Bawa Kendaraan

Yang punya SIM tentulah bukan orang sembarangan. Mereka yang memiliki surat ijin mengemudi berarti sudah berusia 17 tahun ke atas dan telah mengikuti serangkaian ujian untuk mendapatkan SIM mobil atau pun motor. Nah, “kids jaman now” boleh dibilang adalah generasi yang nekat, belum punya SIM udah berani bawa motor ke jalan raya. Terus nggak pakai helm, dan kalau kena tilang polisi paling bisanya cuma nangis karena takut dimarahi orangtua. Banyak kok kejadian seperti ini yang akhirnya foto dan videonya jadi viral di media sosial.

2. Update Terus

Mau itu kabar bahagia, atau pun menyediakan, semuanya bisa menjadi bahan untuk di-posting ke media sosial kok, termasuk foto-foto habis kecelakaan. Kalau orang dulu kemungkinan akan langsung pergi ke tukang urut atau pun rumah sakit ketika mengalami kecelakaan, maka berbeda dengan yang dilakukan oleh “kids jaman now”. Seperti foto yang beberapa waktu lalu sempat viral. Beberapa anak setelah mengalami kecelakaan malah sempat-sempatnya mengunggah foto dengan tangan yang dipenuhi luka akibat jatuh dari motor.

3. Gaya Pacaran yang Bikin “Wow”

Apa jadinya kalau anak SD pacaran? Semuanya bisa terjawab dengan melihat beberapa posting-an di media sosial yang sudah viral kok. Seperti belum lama ini, status siswi SD mendadak viral lantaran ia mengucapkan selamat pada pacarnya yang baru satu minggu ia pacari. “Hay pacarku yang bikin aku ngambek melulu. Happy anniversary 1 week yakk sayangkk. Biarpun masih seminggu cobaannya banyak yak. Ojo nakal yakk sayankk. Jaremu nek gak diyach gak hore. Nek jareku diyachnyaafwan#28. Loopeyu.” Bagaimana ini? 

4. Merokok

Entah biar dibilang keren atau apa, tapi “kids jaman now” memang hobi banget mengunggah foto diri sedang menghisap rokok ke media sosial. Juli lalu ada kasus yang menghebohkan terkait dengan rokok. Akun Instagram @kahfi3925 mengunggah foto siswa SMA tengah merokok. Dalam foto yang diunggah tertulis hanya SMA-nya yang memperbolehkan dia merokok di dalam kelas meskipun masih ada gurunya. Ckckck!

5. Bunuh Diri

Dulu kalau nggak dibeliin mainan sama oragtua paling cuma bisa nangis, sekarang kalau minta motor lalu orangtuanya nggak sanggup beli ancamannya akan bunuh diri. Belum lagi kalau cinta ditolak. Ada lho yang berniat mau mengakhiri hidupnya. Ya ampunnnnn…

Tentunya banyak banget kelakukan “kids jaman now” yang nggak cuma bikin geleng kepala, tapi juga sakit hati. Ada yang punya tetangga kelakuannya kayak yang di atas atau bahkan lebih?